Judul Buku : Setapak Salirang; Kumpulan Cerpen dari Sulawesi Selatan.
Penulis : Asha Ray, Aan Masyur, Rahmat Hidayat, Boraq Cambuq, dll
Penerbit : Insist Press, Yogyakarta, April 2006.
Tebal : x + 162 halaman
Ukuran : 13 x 19 cm.
Salah satu cara mudah untuk mengenal dekat suatu komunitas adalah dengan membaca kisah-kisah yang ditulis anggota komunitas tersebut.
"Setapak Salirang" adalah kumpulan cerpen karya para penulis Sulawesi Selatan yang mencoba mengakrabkan lanskap daerah ini dengan mengangkat tema-tema khas setempat. Seberapa jauhkah Setapak Salirang yang terbit pada April 2006 ini mentransfer kekhasan daerah tersebut ke dalam kumpulan cerpennya? Berikut resensi dari Karno B Batiran.(p!)ZIARAH, NOSTALGIA DAN DOKUMENTASI BUDAYA SULAWESI SELATANMembaca karya sastra seperti menjelajah ke negeri-negeri jauh yang indah dan memesona. Karya sastra merentangkan sebuah lanskap negeri-negeri rekaan (ataupun negeri-negeri yang sangat boleh jadi ada dalam kehidupan nyata) yang memungkinkan kita mengembara bebas di dalamnya.
Dan, ketika membaca karya sastra, kita dengan penuh imajinasi dan bebas pula mengkonstruksi sendiri di dalam pikiran dan khayalan kita tentang bagaimana
setting tempat yang dinarasikannya.
Selain rentangan lanskap geografis yang disuguhkan oleh karya sastra, ia juga mengajak kita untuk berkenalan dengan serangkaian ciri-ciri kehidupan lain, masyarakat dengan ciri sosial dan kultural sendiri.
Setapak Salirang adalah kumpulan cerita pendek dari Sulawesi Selatan (yang pertama) juga menghadirkan hal yang sama. Ia juga mengajak kita menjelajahi negeri Sulawesi Selatan, merentangkan panorama spasial, mulai dari alun-alun kota Makassar, Toraja, Bantimurung, dan tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan. Mulai dari mengitari lapangan Karebosi bersama waria (
Calabai! Calabai! Calabai!, Mansyur Rahim) sampai meniti setapak bersama Salirang, setapak yang panas berdebu dengan silau cahaya matahari yang membuat mata perih (
Setapak Salirang, Nurhady Sirimorok).
Dokumentasi budayaSelain artefak-artefak, berbagai bentuk historiografi, dan catatan-catatan sejarah lainnya, sebuah karya sastra juga merupakan dokumen etnografis yang memperkaya dokumen sosial budaya lain. Ia memotret dan mengabadikan gambaran budaya dalam ceritanya dan pada suatu waktu ketika kita membacanya akan sanggup menarik kita bahkan jauh ke belakang mengajak imajinasi kita bernostalgia dengan suasana kultural masa lampau.
Lebih dari sekadar penziarahan kultural imajinatif, Setapak Salirang pun sanggup menjadi dokumentasi etnografis yang merekam sebagian kecil)renik budaya di Sulawesi Selatan (beberapa di antaranya kemungkinan telah hilang), dan sanggup meneggelamkan kita dalam romantisme masa lalu, menyuguhkan sebuah album yang berisi potret-potret kehidupan dalam frame sosial budaya Sulawesi Selatan.
Jika manusia jaman dulu melihat benda fisik yang nyata seperti sebuah batu, gunung, pohon, dsb, kemudian merekamnya dalam serangkaian mitos, dalam Setapak Salirang pengarang-pengarangnya melihat, mengamati atau bahkan mengalami dan menyelami peristiwa-peristiwa dalam kerangka konseptual budaya Sulawesi Selatan kemudian merekamnya dalam cerita.
Bedanya, jika benda fisik yang mengilhami mitos kemungkinan tidak akan hilang, maka latar belakang sosial budaya yang mengilhami cerpen-cerpen dalam Setapak Salirang sangat boleh jadi akan hilang suatu waktu di masa yang akan datang bahkan mungkin sudah ada yang sulit ditemui.
Seperti misalnya rekaman tentang permainan
gurenceng (
Gurenceng, Indah Nurwahidah). Bagi anak-anak perempuan, yang besar pada dekade 80-an, akan sangat akrab dengan permainan ini, tapi justru sekarang sudah sangat jarang terlihat anak-anak perempuan memainkannya. Mereka mungkin lebih memilih menonton gosip siaran infotainment, ikut bimbingan belajar, atau bermain basket daripada bermain gurenceng untuk mengisi waktunya.
Atau misalnya tradisi
mappadendang (
Dendang Mappadendang, Sahriah Sehang), pesta panen padi, yang sedikit demi sedikit telah tergantikan oleh pertunjukan
electone (organ tunggal) sebagai ungkapan rasa syukur atas panen padi.
Juga misalnya perubahan sosial dan pergeseran budaya masyarakat Bugis yang melihat gelar haji bukan lagi sebuah pencapaian spritual tapi tidak lebih dari sekadar pencapaian sosial, sebuah gengsi sosial yang akan turut menaikkan status sosial bagi pemegangnya (
Haji dari Tanah Bugis, Bouraq Cambuq). Itulah kemudian yang dicoba direkam dan didokumentasikan kembali dalam setapak salirang. Berharap jika suatu waktu kita kembali membacanya, akan membawa ingatan kita tentang budaya yang (pernah) kita miliki.
Namun satu hal yang mengecewakan dalam Setapak Salirang, sepintas sebagian besar cerpen-cerpen di dalamnya melihat budaya hanya secara simbolik dari sudut bahasa dengan banyak memasukkan entri-entri bahasa lokal Sulawesi Selatan (yang disana-sini justeru kelihatan tidak alami) atau pemberian nama karakter dengan nama-nama khas Sulawesi Selatan namun tidak serta merta mewakili ideologi manusia Sulawesi Selatan dengan latar sosio-kulturalnya. Jelas kita akan kecewa jika kita berharap akan menemukan sosok seperti tokoh Sri Sumarahnya Umar Kayam.
Sebagian besar cerpen dalam Setapak Salirang gagal mengembangkan konflik dan tokoh yang merefleksikan bagaimana pandangan ideologis tokoh dalam cerita yang bersesuaian dengan cara pandang manusia Sulawesi Selatan terkait dengan nilai-nilai, paham-paham atau kategori-kategori yang menjadi acuan dalam melihat, memahami dan menyelesaikan masalah hidupnya. Kecuali dalam beberapa cerpen seperti
dendang mappadendang yang samar-samar mengangkat cerita dan mengembangkan tokoh dalam konteks
siri’ (harga diri) masyarakat Bugis.
Meski demikian, di tengah kelemahan-kelemahan dokumen-dokumen sosial budaya yang dihasilkan oleh dunia akademik yang sangat sedikit mengangkat hal-hal kecil (detail) budaya Sulawesi Selatan dan di tengah dominasi dan kepungan publikasi karya-karya sastra bertema budaya Jawa atau akhir-akhir ini karya-karya sastra bertema dan ber-
setting Aceh, kita patut berbangga bahwa telah lahir sekumpulan hasil proses kreatif yang bisa memperkaya rekaman budaya kita, sembari terus berharap akan lahir karya-karya kreatif serupa yang bisa mendokumentasi budaya Sulawesi Selatan agar semakin kokoh menghujam jauh ke dalam bumi.(p
!)
*) Peresensi adalah pustakawan di Kafe Baca Biblioholic - Makassar, dapat dihubungi melalui email annoswt@yahoo.com
sumber: www.panyingkul.com